Simone De Beauvoir; Perempuan Filsuf Revolusioner

Image

Selamat malam sahabat marsinah, jumpa lagi bersama saya, Memey di rubrik Perempuan Pelita, sebuah rubrik kesayangan kita yang hadir setiap hari Kamis jam 7 sampai 8 malam di marsinah 106 FM, radio buruh perempuan dari perempuan buruh untuk kesejahteraan dan kesetaraan.

Malam ini kita akan bersua dengan sosok aktivis perempuan dari negeri Menara Eifel, perempuan luar biasa yang tak kenal lelah memperjuangkan hak perempuan. Sosoknya akan kita simak setelah lagu cantik berikut menyapa anda.

Sosok perempuan itu bernama Simone Beauvoir, dari sebuah kota di Paris ia terlahir. Tepatnya pada tahun 1908, dari sebuah keluarga menengah atas. Ia adalah anak tertua dari dua bersaudara. Adik perempuannya bernama Poupette. Tumbuh besar di kalangan keluarga terdidik, Simone banyak mendapat inspirasi dan pengetahuan moral dari kedua  orang tuanya. Ayahnya adalah sosok yang sangat menggemari teater tapi tertekan dengan situasi sosial yang melingkupinya dan menjadi seorang pengacara, dan ibunya adalah seorang khatolik yang fanatik. Simone mengenyam pendidikan di institusi pendidikan privat dan di bawah didikan ibunya. Ia mulai serius menempuh pendidikan, dan penulisan. Saat menginjak usia 21 tahun ia mulai tinggal bersama neneknya, dan mulai belajar filsafat di Sorbonne. Baca lebih lanjut

Sujatin, Penggagas Kongres Perempuan Indonesia

PEREMPUAN PELITA

EDISI 26 Desember 2013

Image

Salam setara sahabat marsinah, jumpa lagi bersama saya, Memey dalam rubrik kesayangan anda, rubrik Perempuan Pelita yang hadir menemani anda tiap kamis jam 7  sampai jam 8 malam. Sebelumnya, saya, Dias, mengucapkan selamat hari Ibu dan hari raya Natal. Tak terasa, kita sudah sampai pada penghujung tahun 2013. Semoga damai dan semangat perubahan menyertai sabahat marsinah semuanya.

Hari Ibu, jatuh pada 22 Desember. Ia bukan hari biasa, ia adalah hari bersejarah dimana seribu perempuan berkumpul di Jogjakarta untuk membicarakan gagasan kemerdekaan perempuan dan bangsa. Hari ibu adalah hari kebangkitan perempuan Indonesia. Ia adalah hari istimewa tempat berkumpulnya perempuan-perempuan berani dan cerdas yang ingin kemerdekaan dan kesetaraan perempuan serta bangsanya.

Salah satu perempuan tangguh penggagas Kongres Perempuan Indonesia itu akan hadir di tengah kita. Semangatnya, gairahnya akan perubahan akan menghentak kita semua malam ini. Kisah tentangnya akan kita perdengarkan setelah satu tembang asik berikut ini, masih bersama saya Dias. (lagu dan iklan)

Baca lebih lanjut

Bunda Teresa; Berbuat Baik untuk Kaum Miskin

Image

Perempuan Pelita, edisi 12 Desember 2013

Siapa yang tak mengenal Bunda Teresa, seorang biarawati baik hati yang menebar kebaikan pada sesama. Ia tidak hanya bicara soal kebaikan dalam Gereja-gereja namun juga melakukannya, tanpa pamrih, tanpa balas. Di Bulan Desember, jelang hari raya Natal di akhir Desember nanti, Marsinah FM mengangkat sosok Bunda Teresa agar menjadi pelita bagi kita semua. Tentu saja hanya di Perempuan Pelita bersama saya Memey/ Dias, setiap hari kamis jam 7 sampai 8 malam, di marsinah 106 fm. (lagu dan iklan)

Panggil saja dia Bunda Teresa. Nama aslinya yang sebenarnya adalah Agnes Gonxha Bojaxhiu, yang berarti kuncul mawar atau bunga kecil di Albania. Benar, Bunda Teresa berdarah Albania, yang lahir di Usub, Kerajaan Ottoman pada 26 Agustus 1910. Ia adalah anak bungsu dari sebuah keluarga di Shkodër, Albania, dari pasangan  Nikollë dan Drana Bojaxhiu, berasal dari Prizren, Kosovo. Sementara, ibunya diduga berasal dari sebuah desa dekat Đakovica, Kosovo. Pilihan Agnes kecil untuk menjadi biarawati Katholik Roma berawal dari ketertarikannya dengan kisah-kisah dari kehidupan misionaris dan pelayanan mereka di Benggala. Kala usianya 12 tahun, ia memastikan pilihannya untuk menjadi biarawati. Pilihannya itu kemudian menjadi pasti pada 15 Agustus 1928 , kala berdoa di kuil Madonna Hitam di Letnice, tempat dimana ia kerap berziarah. Tepat di usianya yang ke 18 tahun, ia bergabung dengan Kesusteran Loreto sebagai misionaris. Sejak itu, ia tidak pernah lagi melihat ibu atau saudara-saudara perempuannya. Baca lebih lanjut

GURU, PAHLAWAN TANPA UMP

Perempuan Pelita,

edisi 28 November 2013

ImageImageImage

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa katanya, atau pahlawan tanpa UMP (Upah Minimum Provinsi). Namun slogan ini seolah dibuat untuk lepas tangan terhadap nasib jutaan guru yang belum juga sejahtera, kecuali di sekolah-sekolah anak orang “kaya”. Namun, karena cintanya pada dunia pendidikan, para guru ini setia mendidik para siswa agar menjadi cerdas dan pandai. Di tengah kesulitan dan hambatan, para guru ini pantang menyerah. Guru perempuan berkorban sepenuh hati untuk meluaskan pengetahuan pada generasi penerus. Siapa saja mereka? Kisahnya akan menemani malam kita di marsinah 106 fm, radio buruh perempuan untuk kesejahteraan dan kesetaraan. Tentu saja di rubrik Perempuan Pelita setiap kamis jam 7 hingga 8 malam. Saya, Lamoy Farate, untuk sementara menggantikan Dias dan Memey akan menemani anda selama satu jam ke depan. (lagu dan iklan)

“Hidup ini bukan untuk kita sendiri dan bagaimana agar hidup ini juga bermanfaat bagi orang lain adalah prinsip,” Kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut sosok perempuan berusia 34 tahun ini. Sebut saja dia Ida, nama lengkapnya adalah Nursida Syam. Kecintaannya pada buku dan pendidikan mendorongnya membangun sekolah alam anak negeri dan klub baca bagi perempuan di lingkungan tempat tinggalnya yang sederhana, di Dusun Jambi Anom, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Baca lebih lanjut